Analisa Harian

cek analisa harian tentang forex yang di update setiap hari

Analisa Mingguan

cek analisa untuk 1 minggu kedepan

Analisa Bulanan

cek analisa selama 1 bulan sebagai acuan anda

Berita Forex

dapatkan berita forex terkini dengan sumber yang dipercaya

Senin, 09 Desember 2013

Bullard: Fed Dapat Lakukan Tapering QE3 Dalam Jumlah Kecil

SUMBER BERITA: MONEXNEWS.COM
Monexnews - Membaiknya pasar tenaga kerja AS membuat peluang pemangkasan program pembelian obligasi milik Federal Reserve lebih besar, menurut salah satu petinggi the Fed pada hari Senin, menandakan bank sentral dapat mulai tapering dalam jumlah kecil dan kembali meninjau pada semester pertama tahun 2014. Petinggi the Fed akan menggelar pertemuan tanggal 17-18 Desember namun diperkirakan akan menunda pemangkasan program pembelian obligasi hingga tahun depan.
Presiden the Fed bagian St. Louis, James Bullard mengatakan bahwa peluang pemangkasan jumlah pembelian aset telah meningkat dan reaksi yang mungkin pasca sederet data yang positif adalah tapering dalam jumlah kecil pada "pertemuan mendatang." "Tapering dalam jumlah kecil akan mengakui membaiknya pasar tenaga kerja sembari tetap memberikan kesempatan bagi dewan kebijakan the Fed untuk memperhatikan tingkat inflasi secara seksama pada semester pertama tahun 2014," ucapnya. "Jika inflasi tidak kembali menuju target, komite kebijakan dapat menghentikan tapering pada pertemuan selanjutnya."
Bullard mengatakan tapering pembelian obligasi dapat membuktinya bahwa pasar tenaga kerja telah membaik sejak program dimulai, sebuah proses yang kemungkinan akan berlanjut. Tingkat pengangguran berada pada level 7% bulan lalu, turun dari 7.9% pada awal program. Meski demikian, menurutnya tingkat inflasi berada di bawah target 2% milik the Fed dan itu membuat keputusan menjadi sulit.
Bullard menentang untuk berjanji menahan tingkat suku bunga tetap di level rendah hingga tingkat pengangguran turun ke level yang bahkan lebih rendah lagi, mengatakan bahwa perubahan pada target tingkat pengangguran dapat melukai kredibilitas the Fed. Sementara itu ia lebih memilih the Fed berjanji untuk tidak menaikkan tingkat suku bunga kecuali tingkat inflasi naik ke level tertentu, contohnya 1.5%. Petunjuk secara verbal dari gubernur the Fed bahwa tingkat suku bunga akan tetap rendah bahkan setelah tingkat pengangguran menyentuh 6.5% akan menjadi tidak membingungkan dan “mungkin sama efektif” dalam meyakinkan pasar bahwa tingkat suku bunga tidak akan naik dalam waktu dekat setelah the Fed mulai memangkas program pembelian obligasinya, ucap Bullard.
(xiang)

EX Pejabat BOJ: Kebijakan Kuroda Tidak Cukup Sukses Di Tahun Depan

SUMBER BERITA: MONEXNEWS.COM
Monexnews -
Yen akan reli ke level 100 per dollar pada semester pertama tahun depan karena Bank of Japan tidak akan mampu untuk mengulangi perluasan pelonggaran moneter yang cukup sukses pada tahun ini, kata salah seorang mantan pejabat bank sentral.
Kebijakan yang di namakan Kuroda Shock di bulan April yang sukses keluarkan yen dari penurunan terbesar sejak Oktober 2008 dan mendorong yield bertenor 10 tahun ke rekor terendah setelah gubernur BOJ Haruhiko Kuroda berjanji untuk melipatgandakan basis moneter untuk mencapai target inflasi 2 persen. Bank sentral tidak akan mampu untuk membuat kejutan serupa pada pasar di tahun depan, kata Tohru Sasaki, yang bekerja di bank sentral dari tahun 1992 sampai 2003 dan saat ini bekerja sebagai kepala analis mata uang di JP Morgan yang berbasis di Tokyo.
“Lain kali BOJ tidak dapat mengalahkan ekspektasi pasar,” dia mengatakan dalam sebuah wawancara pada tanggal 5 Desember.”Pemerintah sudah bertidak cukup banyak.”
Kuroda akan naikan total pembelian utang sebesar 10 triliun yen ($97 milyar) untuk 12 bulan kedepan yang berakhir 31 Maret 2015, dari laju saat ini yang sebesar $7 triliun yen perbulan, pada pertemuan BOJ 30 April. Menurut prediksi JP Morgan. Dia akan lipatgandakan pembelian investasi yang di perdagangkan di bursa menjadi 2 triliun yen pertahun, kata JP Morgan. Sembilan belas ekonom dalam survey Bloomberg di bulan Oktober mengatakan bahwa BOJ akan menambahkan stimulus di kuartal kedua tahun depan, dengan tujuh orang sisanya mengatakan mereka akan mengurangi dalam periode Juli – September.
Yen akan mencapai level terendah di 104 per dollar sebelum pertemuan BOJ di bulan April, setelah investor di kecewakan oleh ruang lingkup dari pengumuman kebijakan Kuroda yang mungkin akan membeli kembali mata uang Jepang, ujar Sasaki.

Minggu, 08 Desember 2013

Aussie Terkatrol Ekspor China, Fokus Data Ketenagakerjaan

SUMBER BERITA: Seputarforex.com
Kisi-kisi:
- Dolar Australia menguat setelah ekspor China dilaporkan naik
- CPI China dilaporkan pada posisi 3.0% tahunan, ekspektasi 3.1%, dan CPI Oktober 3.2%
- Dolar Australia terkonsolidasi akibat para investor yang tengah fokus pada outlook RBA


AUD/USD ter-gap lebih tinggi di awal pekan trading hari ini Senin (09/12) sehubungan dengan perdagangan China yang pada pekan kemarin dilaporkan lebih baik daripada ekspektasi. Ekpsor China tumbuh sebanyak 12.7% tahun ke tahun pada bulan November, melangkahi prediksi yang menyebutkan peningkatan sebanyak 7.0%, sekaligus merupakan perolehan yang lebih daripada bulan Oktober yang mencapai 5.6%. Terkatrolnya penjualan mancanegara yang dicatat oleh China tersebut memberikan pertanda bahwa kesehatan ekonomi Negeri tirai Bambu masih baik-baik saja secara keseluruhan dan melandasi ekpektasi bahwa permintaan bahan baku cukup baik, yang mana Australia adalah pemasok utamanya. Hal tersebut menjadi bantuan tersendiri untuk mengangkat prospek pertumbuhan ekonomi Australia dan batasan bagi pemotongan suku bunga oleh RBA, sehingga Aussie pun terdongkrak.


AUD
Namun kemudian, Aussie pun melemah lagi di tengah aksi profit-taking menyusul kenaikan yang terjadi di pembukaan awal. Sebagian besar harga pun telah dapat disesuaikan setelah serangkaian angka-angka inflasi China yang tercatat melemah. Tingkat CPI China tahun ke tahun atau y/y, dilaporkan menurun ke 3.0% pada bulan November dari 3.2%, atau sedikit lebih rendah daripada prediksi yang menyebutkan kenaikan sebanyak 3.1%. Hasil tersebut melemahkan isu pengetatan kebijakan moneter China -yang akan berpengaruh luas pada Aussie- yang sedianya akan dilakukan dalam waktu dekat, namun reaksi tunggal yang muncul nampaknya tak akan terwujud karena para trader telah mencerna kenaikan gap yang telah terjadi secara signifikan pada saat pembukaan.

AUD/USD diperdagangkan pada 0.9108 atau naik tipis sebanyak 0.04% pada awal sesi Asia pagi tadi setelah survei iklan lapangan pekerjaan dari Bank ANZ pada bulan November tercatat menurun 0.8% bulan ke bula, yang menandai adanya stabilisasi. ANZ melaporkan bahwa data tenaga kerja pada bulan November pada hari Kamis nanti akan diawasi secara ketat sebagai sinyal akan pertumbuhan lapangan kerja. 

Dengan demikian, Penjualan retail China dan data tenaga kerja Australia akan menjadi sorotan utama dalam pekan ini. Pertimbangan sentimen risiko masih tampak signifikan di tengah spekulasi waktu pelaksanaan pengurangan pembelian stimulus yang akan dilakukan oleh The Fed. Selain itu, tingkat PPI AS dan data penjualan retail dijadwalkan akan rilis seiring dengan komentar dari pejabat-pejabat penting The Fed.

Inflasi China Melambat Pada Bulan November

SUMBER BERITA: MONEXNEWS.COM
Monexnews - Inflasi China pada bulan November lebih lambat dari estimasi sebelumnya. Inflasi tumbuh sebesar 3% dari tahun sebelumnya, sedikit dibawah perkiraan para ekonom sebesar 3,1%, dan inflasi bulan oktober sebesar 3,2%. Sementara indeks harga produsen turun 1,4% dibandingkan dengan perkiraan penurunan sebesar 1,5%.
Premier PBOC, Li Keqiang, berusaha untuk menjaga target pertumbuhan inflasi sebesar 3,5% untuk tahun 2013 seiring pemerintah China mulai menerapkan reformasi kebijakan ekonomi secara luas. Data lain pada hari minggu menunjukkan China mencatat surplus terbesar dalam hampir lima tahun terakhir, akibat melonjaknya ekspor dan peningkatan impor yang moderat. Surplus pada bulan November sebesar $33,8 juta, merupakan yang terbesar sejak januari 2009.
“Angka inflasi yang sedkit lebih rendah dari perkiraan, ditambah dengan data perdagangan yang kita dapat pada akhir pekan lalu, merupakan sesuatu yang positif untuk pertumbuhan China dalam jangka panjang dan akan memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan pelonggaram” kata Andrew Sullivan, ahli strategi di Kim Eng Securities. (pap)

Ekonomi Jepang di Q3 Tumbuh Lebih Lambat dari Ekspektasi

SUMBER BERITA: VIBIZNEWS.COM
Pagi ini telah dirilis sebuah data penting dari Jepang (09/12). Pertumbuhan ekonomi Jepang di kuartal ketiga lalu berada di level 0.3 persen (q/q). Angka pertumbuhan kuartalan ini direvisi turun dibandingkan dengan data awal (preliminary) yang berada di level 0.5 persen.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi juga lebih lambat dibandingkan dengan data preliminary. Pertumbuhan ekonomi di kuartal Juli-September lalu mengalami perlambatan ke level 1.1 persen. Pertumbuhan ini berada di bawah rilis data preliminary yang sebelumnya pada level 1.9 persen.
Data terpisah menunjukkan bahwa transaksi berjalan di kuartal ketiga juga masih mengalami defisit, tidak sesuai dengan harapan yang mengharapkan terjadinya surplus. Tercatat defisit transaksi berjalan mencapai 0.06 triliun yen, mengecil dibandingkan surplus di kuartal kedua yang berada di level 0.13 triliun yen. Akan tetapi estimasi mengharapkan terjadinya surplus sebesar 0.12 triliun yen.
Data ekonomi yang dirilis dari Jepang hari ini cenderung mengecewakan bagi para pelaku pasar. Akan tetapi melemahnya yen menjadi faktor yang mendukung sentiment. Para investor tampaknya masih percaya bahwa dengan melemahnya yen, pertumbuhan ekonomi di tahun 2014 mendatang masih berpotensi untuk cerah.
Minggu lalu pemerintah Jepang telah menyetujui paket stimulus tambahan senilai 18.6 triliun yen atau 182 miliar dollar untuk menjadi penopang ekonomi dari kemungkinan dampak negatif kenaikan pajak yang rencananya akan diaktifkan bulan April tahun depan.
(ia/JA/vbn)

ECB Tidak Khawatir Dan Semakin Toleran Terhadap Data Yang Lemah

SUMBER BERITA: seputarforex.com
Pertemuan ECB  terakhir  ditahun 2013, Tampaknya sangat penting, karena ECB tidak terdengar dovish seperti yang terjadi pada bulan November ketika mengejutkan pasar dan menurunkan suku bunga.

Presiden ECB  Mario Draghi Sebaliknya  seperti  berada dalam kondisi wait and see , dan bahkan tidak khawatir dengan penurunan tajam dalam inflasi,  sebaliknya Draghi mengatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap sehat.

ECB tampaknya tidak khawatir. dan memperkirakan   2015 harga tetap jauh di bawah 2 % atau di bawah target inflasi , hal ini menunjukkan bahwa ECB  menjadi semakin toleran terhadap data ekonomi yang lemah .
Dalam konferensi pers pasca rapat kebijakan pada hari Kamis pekan lalu, Mario Draghi kembali menegaskan kesiapan bank sentral untuk meluncurkan kebijakan baru jika diperlukan, namun tidak memberi sinyal lebih lanjut tentang wacana suku bunga deposito negatif.
Euro kembali menguat hingga ke level tertinggi didorong oleh kenaikan suku bunga jangka pendek,  setelah ECB memupus spekulasi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Ekonomi Inggris Menunjukan Perbaikan, Sterling Terapresiasi

SUMBER BERITA:seputarforex.com
Ada kejutan pertumbuhan yang lebih bagi perekonomian Inggris dipekan lalu. Dimana survei PMI untuk bulan November menunjukkan pertumbuhan yang  yang cukup menggembirakan . Data PMI terbaru ini naik sebesar 1.5 % dalam tiga bulan terakhir di Q3.

Meskipun survei sektor  tetap pada tingkat tinggi  di level  60.0,  Sektor manufaktur menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan .  Sementara sektor konstruksi juga menunjukan hasil yang memuaskan, survei PMI naik ke level tertinggi,  didorong oleh skema pinjaman pemerintah dan kenaikan harga rumah.
Sementara masyarakat Inggris memperkirakan tingkat inflasi akan mengalami kenaikan, namun sebagian besar masih berpegang pada pesan dari Gubernur Bank of England (BoE) Mark Carney bahwa tingkat suku bunga tidak akan naik dalam waktu dekat meski perekonomian alami pemulihan.
Sterling  tampak terapresiasi terhadap  Dolar AS  pasca data perumahan meningkat di atas perkiraan pada bulan lalu, yang memperkuat optimisme tentang pemulihan ekonomi dan spekulasi tentang pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat.